Yuk, memulai kebiasaan menulis dari kecil bersama SIDU

on

Senengnyaaaa acara The Urban Mama kali ini yaitu talkshow tentang “Membangun generasi cerdas Indonesia melalui kebiasaan menulis” bekerja sama dengan SIDU. Ingeeeeet banget dari jaman SD dulu selalu memilih buku Sinar Dunia. Selain kertasnya yang tebal, tidak cepat tembus jika memakai pulpen yang tintanya pekat dan tidak cepat sobek, SIDU ini selalu bagus bagus cover buku bukunya. Hihihihi!

Acara ini berlangsung pada hari Selasa tanggal 8 Mei 2018 lalu berlokasi di The Icon, lantai 1, Morrisey Hotel. Di jalan K.H. Wahid Hasyim No. 70 Kebon Sirih, Menteng, Jakarta Pusat. Acara di mulai pada pukul 09.30 pagi dengan sesi menyantap cemilan cemilan sehat dan enak dari The Icon. Setelah peserta berkumpul semua, akhirnya acara resmi di mulai. Udah ga sabar niii.

Talkshow ini akan di hadiri oleh 4 narasumber, yang pertama yaitu Ibu Nurman Siagian. Beliau adalah pakar edukasi anak sekaligus Kordinator Program Pendidikan dari Wahana Visi Indonesia (VWI), mitra dari NGO Internasional yang berfokus di pendidikan dan pembangunan. Ibu Nurman juga fokus melakukan riset dan kampanye di bidang pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini serta pendidikan dasar.

Narasumber yang kedua yaitu Ibu Melly Kiong, beliau seorang praktisi “Mindful Parenting”, sebuah konsep yang mengedepankan kesadaran orang tua dalam berkomunikasi, mendidik dan mengasuh anak. Ibu Melly mengajarkan konsep tersebut pada komunitas yang beliau bentuk, bernama “Menata Keluarga” (MK). Ibu Melly juga telah menerbitkan beberapa buku best seller mengenai parenting. Diantaranya adalah “Siapa Bilang Ibu Bekerja Tidak Bisa Mendidik Anak Dengan Baik” , “Cara Kreatif Mendidik Anak” dan “Guru-guru Kecil Melly Kiong”

Talkshow SIDU (foto by HoneyJT)

 

Talkshow SIDU (foto by HoneyJt)

Lanjut ke narasumber yang ketiga yaitu Fayanna Alisha, seorang penulis cilik , anggota komunitas Kecil Kecil Punya Karya (KKPK). Di usianya yang masih sangat muda 13 tahun, Fayanna telah mempublikasikan lebih dari 42 buah novel dan kumpulan cerpen. Di antaranyya yaitu “Jejak Rahasia Sahabat” dan “Bintang di Siang Hari”. Atas prestasinya, Fayanna memperoleh penghargaan Tunas Muda Pemimpin Indonesia dari Kementrian Pemberdayaan Wanita dan Perlindungan Anak. Uwow! hebat banget yah!

Dan Narasumber yang terakhir yaitu Bapak Martin Jimi, beliau merupakan Domestic Business Head – BU Consumer Asia Pulp and paper (APP) Sinar Mas. Sebelum bergabung dengan APP Sinar Mas, beliau telah di percaya memimpin beberapa perusahaan ternama di Indonesia. Berbekal pengalaman dan keahlian yang luas khususnya di bidang Sales dan Marketing, Martin di percaya memimpin pasar domestik APP Sinar Mas sejak tahun 2016.

Buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

Cerita singkat dulu yah tentang pengalaman saya ketika Hirzi anak pertama saya mulai sekolah dasar. Tulisan dia menurut saya tidak terlalu rapih untuk ukuran huruf sambung, tapi dia tipe yang terus berusaha untuk lebih baik setiap harinya. Sebulan berjalan kok tulisan kaka makin seenaknya, dalam hati sempet terpikir “wah jangan jangan nanti dapat buku tambahan menulis nih” . Dan benar, ga lama dari situ saya dapat pesan dari gurunya bahwa ada beberapa siswa yang memiliki buku tambahan selain buku pekerjaan rumah (PR) karena beberapa siswa tersebut tulisannya mesti di perbaiki. Antara malu dan seneng juga sih. Malu karena menjadi bagian dari beberapa siswa yang tulisannya tidak begitu bagus, tapu seneng karena dengan “Tugas Tambahan Menulis” ini akan membuat kaka Hirzi semakin bagus tulisan tangan sambung dia.

Saya sempet bertanya kepada dia. Kenapa kok tulisannya makin lama makin jelek dan hampir tidak terbaca? Jawabannya yaitu “Habis teman temanku sudah pada keluar kelas untuk bermain bola bund, jadi aku buru buru” . Owalaaah, itu ternyata penyebabnya. Akhirnya saya sampaikan baik buruknya tentang hal tersebut. Bahwa dengan menulis terburu buru, tulisan yang di dapat pun tidak dapat terbaca oleh ibu guru. Jangankan ibu guru, sama kaka sendiri pun dia kadang tidak bisa membaca tulisan dia sendiri. Hahaha! ujung ujungnya jadi lama belajarnya dan pusing sendiri.

Waktu berlalu, setiap hari kaka mendapat PR tambahan dengan tulisan dan kalimat yang berbeda. Dan semakin hari tulisan kaka pun mendapat nilai yang lebih baik dari tulisan tangan sebelumnya. Dari nilai C, B, B+ sampai akhirnya A. Dia pun semakin semangat. Dan dia pun mulai menyadari, bahwa dengan menulis dengan perlahan dan sabar, tulisan yang dia dapatkan pun menjadi bagus dan mudah di baca dan di mengerti oleh orang yang membacanya.

Sebagai orang tua, membiasakan anak menulis di era atau jaman gadget ini susah susah gampang menurut saya. Kemampuan menulis tangan sangat berbeda dengan kemampuan mengetik di gadget, baik handphone, komputer ataupun laptop. Kesuksesan membiasakan menulis tangan bukan hanya tugas seorang guru di sekolah, tetapi tugas kita sebagai orang tua di rumah. Bagaimana cara kita membuat anak anak kita terpacu untuk lebih rajin menulis, sementara kita selalu asik dengan gadget kita, atau kita tidak membiasakan hal hal kecil tentang menulis di lingkungan keluarga. Dengan kita membiasakan menulis, mmmmmh misalnya kita ambil contoh kecil yah, kita rajin menulis buku resep makanan mungkin ketika sedang menonton televisi acara memasak, atau menulis buku harian setiap hari tentang kejadian kita sehari hari, jadi anak anak kita akan terbiasa melihat kebiasaan baik kita sebagai orang tua yang rajin menulis tangan setiap hari dan mereka pasti akan melakukan hal yang sama ke depannya.

SIDU berkontribusi menumbuhkan kebiasaan menulis pada anak.

Generasi muda Indonesia kini memiliki sebuah wadah baru untuk meningkatkan kompetensi melalui gerakan nasional “Ayo Menulis Bersama SIDU”. Sinar Dunia (SIDU), merk buku tulisan unggulan Asia Pulp and Paper (APP) Sinar Mas mensosialisasikan gerakan tersebut pada kesempatan acara kali ini dengan mengusung tema “Membangun Generasi Cerdas Indonesia Melalui Kebiasaan Menulis”.

Ibu Nurman Siagian turut menyoroti kompetensi anak anak Indonesia yang masih berada di belakang negara negara lainnya. Menurutnya hasil survey setiap tiga tahun dari Programme for International Student Assessment (PISA) 2015 yang di keluarkan oleh Organization for Economic Coorperation and Development (OECD) menunjukkan kompetensi anak Indonesia menduduki peringkat ke 60 dari 72 negara. Jauh terbelakang jika dibandikangkan dengan negara negara tetangga kita yaitu Singapura dan Malaysia. Wah beda jauh sekali urutannya. Ia juga menambahkan, isu kompetensi ini berkaitan erat pula dengan melemahnya tradisi menulis di Indonesia seiring pesatnya perkembangan gawai. Padahal menulis, khususnya menulis di buku tulis memiliki banyak manfaat karena mengasah berbagai keterampilan seperti berpikir kritis, daya ingat dan motorik.

Bapak Martin menambahkan “Berangkat dari kepedulian kami terhadap pentingnya meningkatkan kompetensi anak, SIDU merintis gerakan ‘Ayo Menulis Bersama SIDU’ sejak April 2018 lalu demi menumbuhkan kebiasaan menulis pada anak yang kami yakini dapat berpengaruh positif terhadap peningkatan kompetensi anak Indonesia”. SIDU merintis ‘Ayo Menulis Bersama SIDU’ melibatkan 20.000 murid dari 100 sekolah dasar di JABODETABEK pada tahap pertama yang akan berlangsung hingga Mei 2018. Gerakan ini mencakup pemberian buku latihan menulis untuk anak, serta pendampingan yang melibatkan orang tua dan guru secara intensif, dengan modul yang berlangsung selama 21 hari.

Ibu Nurman juga memaparkan  “Kegiatan menulis mendukung anak untuk menguasai huruf dan Fonemik, memperkaya kosa kata dan meningkatkan kemampuan anak menangkap pelajaran. Oleh karena itu, gerakan ‘Ayo Menulis Bersama SIDU’ amat saya apresiasi dan kita dukung”. Dari segi parenting, Melly Kiong praktisi Mindful Parenting berbagi kiat kiat praktis pada orang tua dan guru. Menurut beliau, menulis merupakan cara komunikasi yang sangat baik antara anak dan orang tua. “Melalui tulisan-tulisan sederhana anak , orang tua dapat melihat talenta terpendam anak, atau bahkan masalah yang sedang ia hadapi di sekolah.” paparnya. “Orang tua dapat membantu menumbuhkan kebiasaan ini dengan mengajak anak mengisi jurnal atau saling berkirim memo kecil”.

Contoh Ibu Melly ketika anak Bu Melly masih kecil yaitu beliau selalu memasukkan sebuah memo kecil ke dalam lunch box anaknya. Kebiasaan awal itu tercetus karena anaknya selalu skip untuk memakan bekal makan siangnya karena mereka selalu bersemangat untuk bermain bersama teman temannya di banding mamakan bekal dari rumah. Cara menyiasati nya yaitu dengan cara seperti itu, sehingga selain bekal anak habis, anak pun di ajarkan untuk membaca memo memo kecil itu. Bagaimana untuk menulisnya? Ibu Melly menyiasatinya lagi dengan memberikan teka teki, yang harus di jawab di memo kecilnya. Selain itu beliau juga membuat memo kecil yang di simpan di depan pintu kulkas, agar anak anaknya menulis kebiasaan baik setiap harinya yang akan di lihat hasilnya oleh ibu Melly ketika pulang bekerja.

Wah saya inget banget ni, awal awal masuk sekolah saya lebihkan satu buku tulis, yang isinya catatan harian saya dan Hirzi serta ayahnya. Kami masing masing menceritakan apa saja yang terjadi setiap hari. Duh, sayang sekali kebiasaan ini ga bertahan lama. Sekarang sepertinya saya harus memulai kembali kebiasaan baik menulis itu kepada Hirzi dan Alya. Semangat! ^^

Kebiasaan menulis dengan tangan memiliki kemampuan lebih, dimana anak akan berpikir terlebih dahulu sebelum menulis, dan kemampuan mengingat juga. Hubungan atau kedekatan antara orang tua dengan anak pun dapat terjalin jika sering menulis cerita atau bertukar cerita di buku  harian bersama setiap hari. Hal itu akan membiasakan anak kita untuk menulis tangan setiap hari tidak hanya di sekolah, tetapi di rumah juga.  Jika orang tua bekerja, tanggung jawab menulis bisa kita berikan kepada mbak di rumah yang menjaga anak anak kita, sambil menunggu kita pulang bekerja.

Berikut adalah tiga hal keuntungan jika anak sering menulis tangan. Pertama yaitu meningkatkan kecerdasan anak. Kedua yaitu meningkatkan daya ingat anak dan terakhir yaitu untuk meningkatkan kreativitas anak. Keahlian menulis adalah kemampuan pertama akademis. Menulis dan mengetik itu dua hal yang berbeda. Jangan sampai kebiasaan menulis tangan hilang. Kebiasaan menulis juga akan membuat anak mengenal dirinya sendiri. Bagaimana mereka bisa mengekspresikan perasaan anak yang dirasakan setiap hari. Seperti perasaan senang, bahagia, sedih, takut dan perasaan lainnya.

SIDU bekerja sama dengan Renny Yaniar, seorang penulis cerita anak kenamaan yang telah menerbitkan lebih dari 130 buku, SiDU menyusun modul buku latihan menulis tersebut berdasarkan studi yang mengungkapkan bahwa kebiasaan baru dapat di bentuk dengan rutin melakukannya selama minimal 21 hari. Buku latihan menulis tersebut mencakup berbagai topik yang memancing minat anak untuk menulis. Mulai dari mengenal diri sendiri, mengetahui asal mula kertas, hingga perhelatan Asian Games 2018, dimana APP Sinar Mas sebagai mitra resmi turut mendukung Indonesia sebagai tuan rumah. Beragam topik tersebut diikuti dengan pertanyaan pertanyaan yang menstimulus anak untuk mengutarakan pendapat serta idenya melalui tulisan tangan,

Ada Pengetahuan di buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

 

Isi buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

 

Isi buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

 

Latihan hari ke 1 di buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

 

Ada Dongeng di buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

 

Catatan hari terakhir ke 21 di buku ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’

 

Ayo Terus Menulis Bersama SiDU

Membacakan buku cerita anak sedini mungkin juga merupakan salah satu cara agar anak memiliki kemampuan mengingat. Jika kita memulai untuk mengajarkan anak menulis, jangan memaksakan jika anak sudah bosan. Karena mengajarkan konsep bukan memaksakan anak untuk menulis jika umur anak masih usia dini. Anjuran pemerintah sendiri yaitu anak berumur 7 tahun untuk belajar calistung. Kalaupun di bawah usia tersebut, belajarnya sambil bermain. Yang utama yaitu bagaimana cara  mengajarkan sosial emosinya. Perkenalkan saja dahulu konsepnya belajar huruf dan bahasa dengan cara bermain karena setiap anak mempunyai bakat.

Sebagai penutup “Dengan dukungan berbagai pihak, APP Sinar Mas melalui SiDU berharap program ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’ dapat menjangkau lebih banyak sekolah di Indonesia, serta menjadi motor munculnya program program sejenis, agar kebiasaan menulis semakin meluas di Indonesia.” papar Bapak Martin.

Wah ga terasa dua jam berlalu. Senang sekali hadir di acara ini. Di dalam goodie bag yang diberikan, saya mendapatkan buku SiDU yang special itu. Karena buku SiDU edisi ‘Ayo Menulis Bersama SiDU’ tidak di jual bebas. Jika kalian ingin mendapatkan buku tersebut, pihak sekolah bisa mengajukannya di website www.ayomenulis.id .  Terima kasih banyak untuk SiDU dan The Urban Mama untuk acara yang hebat ini. Semoga tulisan ini juga bisa memberi motivasi dan dukungan untuk para orang tua dan anak agar lebih rajin lagi menulis dengan tangan. Salam ^^

Para Narasumber

 

Thank You SiDU

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *